Destri Putri Ramadhanti; " />
Detail Cantuman Kembali

XML

KARAKTERISASI DAN UJI DIFUSI ETOSOM BINER KLINDAMISIN FOSFAT SEBAGAI ANTI ACNE


Latar Belakang dan Tujuan:
Jerawat merupakan penyakit kulit inflamasi yang sering menurunkan kepercayaan
diri, sementara terapi konvensional terkendala penetrasi obat. Etosom biner,
kombinasi etanol dan propilen glikol, dikembangkan untuk meningkatkan penetrasi
dan mengurangi iritasi dibanding etosom klasik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi
pengaruh waktu sonikasi terhadap karakter fisikokimia etosom biner klindamisin
fosfat serta pengaruh jenis fosfolipid terhadap kumulatif penetrasi obat.
Metode:
Karakterisasi etosom biner klindamisin fosfat dilakukan melalui pengecilan
partikel dengan sonikasi probe pada interval waktu 10, 15, dan 30 menit. Analisis
meliputi ukuran partikel, distribusi, PDI, potensial zeta, dan efisiensi enkapsulasi
(%EE). Uji stabilitas menggunakan metode freeze-thaw, dan pelepasan obat diuji
dengan difusi franz untuk menilai penetrasi obat melalui kulit, dengan mengevaluasi
kumulatif obat yang terpenetrasi serta laju difusinya.
Hasil dan Kesimpulan:
Penelitian ini menemukan bahwa waktu sonikasi sangat mempengaruhi sifat
etosom biner klindamisin fosfat, khususnya ukuran dan stabilitasnya, yang dijelaskan
oleh fenomena Ostwald ripening dan efek kavitasi. Sonikasi 10 menit terbukti optimal,
menghasilkan etosom biner dengan ukuran partikel kecil, yaitu 201,4 nm untuk etosom
berbasis soya lesitin dan 190 nm untuk etosom biner berbasis HSPC. Selain itu, PDI
(Polydispersity Index) yang rendah, yakni 0,499 untuk etosom berbasis soya lesitin
dan 0,4 untuk etosom berbasis HSPC, potensial zeta yang sangat negatif (-51,5 mV
hingga -81,8 mV) menjamin stabilitas fisik dan elektrostatik yang kuat, serta nilai
efisiensi enkaspulasi yang tinggi >80% dimana untuk etosom biner berbasis soya
lesitin 90,03% ± 2,72 sedangkan pada etosom biner berbasis HSPC 84,92 ± 3,64.
Uji difusi in vitro menunjukkan peningkatan signifikan dalam penetrasi
klindamisin fosfat dari etosom biner dibandingkan dengan obat biasa. Etosom berbasis
soya lesitin menunjukkan jumlah kumulatif zat terpenetrasi sebesar 2138,19 ± 129,87
µg/cm², dengan 53,45 ± 3,25% zat terpenetrasi dan fluks 106,91 ± 6,49 µg/cm².jam.
Sementara itu, etosom berbasis HSPC mencapai jumlah kumulatif zat terpenetrasi
yang lebih tinggi, yaitu 2417,90 ± 34,79 µg/cm², dengan 60,45 ± 0,87% zat
ii
terpenetrasi. Etosom biner HSPC juga mencatat fluks tertinggi sebesar 120,89 ± 1,74
µg/cm².jam, yang berbeda signifikan dari etosom soya lesitin (p=0,023). Sebagai
perbandingan, klindamisin fosfat biasa hanya menunjukkan jumlah kumulatif 251,06
± 30,39 µg/cm²), dengan 6,28 ± 0,76% zat terpenetrasi dan fluks 12,55 ± 1,52
µg/cm².jam. Pola pelepasan obat dari etosom biner paling sesuai dengan model
kinetika Higuchi, menunjukkan pelepasan terkontrol melalui difusi.
Kata Kunci: Jerawat, etosom biner, klindamisin fosfat, Soya Lesitin, HSPC.
Destri Putri Ramadhanti - Personal Name
615.19 DES k
615.19
Text
Indonesia
FAKULTAS FARMASI UMMADA CIREBON
2025
Cirebon
LOADING LIST...
LOADING LIST...
APA Citation
Destri Putri Ramadhanti. (2025).KARAKTERISASI DAN UJI DIFUSI ETOSOM BINER KLINDAMISIN FOSFAT SEBAGAI ANTI ACNE.(Electronic Thesis or Dissertation). Retrieved from https://localhost/etd